Capt.Epyardi Asda : Dibalik Ketegasan Tersirat Komitmen Yang Jelas




AROSUKO,METROTALENTA.C-OM. ‘Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta’, agaknya pribahasa ini perlu dicermati lebih seksama. Khusus nuansa menyongsong Pilkada jamaknya di berbagai daerah, seperti juga di Kabupaten Solok. Sosok Capt.Epyardi Asda berpasangan Jon Firman Pandu nomor urut 2, talenta dari Cabup Epyardi tidaklah semua orang yang tahu.

Meski Epyardi sempat tiga periode (2004 – 2019) jadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumbar, namun legislator Senayan ini, hanya banyak tahu dalam pemberitaan dan sejumlah kegiatan yang dia kucurkan lewat program konstituennya yang tersebar di berbagai kabupaten kota yang ia wakili. Namun untuk Pilkada Kabupaten Solok, sang kapten—sapaan akrab Epyardi, mesti ’turun gunung’ menampakkan sosok selaku pemimpin yang akan membawa perubahan serta pembangunan untuk Kabupaten Solok. Figur, ya figure seseorang merupakan barometer sahih dalam Pilkada. Disini juga bakal dilihat dan dinilai oleh masyarakat akan keelokkan seorang pemimpin yang akan dipilih selaku nahkoda. Berbeda dengan Pileg, banyak alternative yang mempengaruhi, mulai sosok pimpinan partai yang di pusat hingga ke daerah, azas partai yang juga faktor SARA, finansial dan termasuk ketokohan calon yang maju.

Kembali setentang Epyardi, owner Chinangkik dream park ini, ketika melihat biografinya, Epy—panggilan kecilnya, termasuk berkehidupan sulit, apalagi dalam keluarga besar 12 orang dan hidup sebanyak 8 orang. “Ibu saya berdagang menjojokan beras keliling kampung, bapak saya kusir bendi, kami tidak punya sawah, saya waktu kecil ikut menjojokan”,sebut Epy mengingat kenangan silamnya seperti dikutip wawancara dengan host Dr.Ir.Feri Arlius Dt.Sipado, M.Sc di kanal you tube.

Malah sudah di SMA, dirinya baru satu kali ke Padang, dan setamatnya melanjutkan sekolah ke Semarang, ke sekolah pelayaran. Bisa dibayangkan, orangtua miskin, hidup di kampung susah, ke Padang saja baru sekali seumur hidup kala itu, kini akan merantau untuk bersekolah. 

Dari kegetiran hidup yang ditempa sejak kecil, ketika bersekolah di pelayaran sambil kerja, menjadikan Epy matang dalam berusaha. Selepas sekolah ia naik kapal, rata-rata rute laur negeri, sehingga ia digaji dengan dolar. “Gaji pertama saya, langsung dikirim ke ibu di kampung. Saya hemat, karena saya berprinsip bekerja mencari pitih, dan uang didapat selalu dikirm ke kampong. Ibu minta beli sawah satu, saya suruh kenapa satu beli agak sepuluh, begitulah seterusnya”,ucap Epy sungguh-sungguh dalam tekad membangkik batang tarandam, mengangkat harkat keluarga.

Karena ditempa perjalanan hidup relative keras dan susah, menjadikan Epyardi kokoh dalam bertindak. Orangnya tegas, berbicara jelas, bertutur pun  pasti, tidak ada neko-neko dan jauh dari muluik manih kucindam murah, papek dilua pancuang didalam. Bagi seorang Epy tidak bersua jika terasa itu sebuah halangan dan rintangan, niscaya spontanitas ia sampaikan, inilah kemandirian diri yang telah terasah baginya semenjak dini.

Makanya, tak tahu maka tak kenal...dan sebaliknya, kadang orang belum kenal lebih dekat, hanya melalui kata orang, pesan sponsor, lalu mengcap kasar, sombong dan lainnya. “Kadang orang belum pernah dekat dengan beliau mengcap kasar. Bagi beliau banyak aka ke negative, pangicuah, pembohong, serta bertele-tele, beliau sangat benci”,kata Ali Hanafiah salah seorang yang sering mengikuti berkampanye.

Memang, tersebutlah ketika sebuah rombongan ibu-ibu dari guru PAUD yang dijamu dirumahnya di Singkarak belum lama ini, selain paparan niatnya untuk maju jadi bupati, dalam seling cerita, para pendidik itu dibuat tertawa gelak berderai oleh ucapan sang kapten. “Saya dikatakan orang sombong, kasar, disini bapak ibu kan bisa menilai. Inilah saya apa adanya, memang sudah dari sononya. Kalau suara keras saya akui, saya tak perlu pakai miks, justru suara saya ini sampai ke Sumani”,geeerrrr …tawa berlanjut dari hadirin. 

‘Membangkik batang terandam’, merupakan niat untuk membangun Kabupaten Solok untuk lebih maju. Termasuk tekad ketika ia susah yang kini sudah mapan. Dari beberapa data yang ia perdapat, Kabupaten Solok terbaik dari yang baik sudah mulai tersisih, dan inilah cambuk baginya untuk mengejar ketertinggalan sembari mengangkat harkat martabat serta perekonomian rakyat. Berbagai konsep banyak ia telorkan, inovasi untuk kemajuan banyak yang ia luncurkan, tinggal eksekusi tatkala dirinya diamanahi menjadi bupati. 

Yang jelas, secuil gebrakan yang ia hadirkan dari 14 kecamatan, di masing-masing kecamatan harus ada eskafator, sebagai alat penunjang pembangunan infrastruktur, baik jalan maupun lahan untuk pembangunan. Apalagi sebagai daerah agraris dan pariwisata dengan pesona lima danau, niscaya sebuah potensi besar bagi Kabupaten Solok. Buktinya, Chinangkik dengan views Danau Singkarak, telah memberikan konstribusi besar terhadap destinasi bagi Kabupaten Solok. Setidaknya ada 200 karyawannya yang orang Solok, devisa masuk dan geliat barang, orang yang beredar, ini merupakan anugrah yang ditorehkan pengusaha sekelas Epy.

Dalam janji kampanye Epy, juga tidak muluk-muluk. Justru dibalik ketegasannya tersirat komitmen yang jelas. “Saya jika ditakdirkan, qadarullah menjadi bupati, insyaallah akan kita wujudkan mambangkik batang terandam. Sebaliknya, dimana suara saya banyak, tapi belum jadi, maka anak saya Athari di DPR RI yang mengganti melalui dana pokirnya”,kata Epy pasti.(yas)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.metrotalenta.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Mairizal, SH